“Kita memang terlahir ditengah tengah keluarga yang kurang mampu, tetapi potensi kita sama, peluang kitapun sama,jangan sampai kita mati tanpa meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.Seperti pepatah mengatakan Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, lalu apa yang akan kita tinggalkan ketika mati nanti??”
Hari masih gelap,kumandang adzanpun belum lagi terdengar hanya sayup-sayup lantunan salawat dari pengeras suara masjid kampung.Seorang anak muda terjaga dari tidurnya dan bergegas menuju pancuran di samping rumahnya untuk mengambil air wudlu.Suasana pagi itu masih sangat dingin sehingga membuat gigi bergemeretak karena saling beradu,namun hal itu tidak menghalanginya untuk tetap shalat berjama’ah di masjid.
Seperti hari-hari biasanya dia lakukan aktivitas rutinya,hingga tibalah saatnya dia pergi ke kampus untuk melakukan kegiatan perkuliahan,sepulang dari kampus dia biasa singgah di kantor sekretariat HMI Cabang serang sambil berharap ada temannya yang berbaik hati membagi makanan untuk sekedar mangganjal perut, maklum dia tidak punya cukup uang untuk membeli makanan,namun setelah seharian menunggu tak satupun temannya datang dengan membawa makanan,hari itupun dia lewatkan tanpa sesuap nasipun yang masuk ke dalam perutnya,barulah pada hari kedua temannya datang membawa makanan dan diapun menyambutnya dengan wajah sumringah sambil bergumam dalam hati “ akhirnya terisi juga perut ini, Alhamdulillah yaa Rabb”
Begitulah hari- hari yang dilalui oleh seorang anak muda bernama Gaos Adhom,pemuda yang matang oleh tempaan kondisi ekonomi yang serba kekurangan,sehingga membentuk karakter pribadi yang tangguh, tak kenal menyerah, dan berjiwa kesetiakawanan yang tinggi.Hal ini tidak terlepas dari hasil didikan kedua orang tuanya,abahnya ( sebutan ayah dalam keluarganya) H.A Hamdani,seorang ulama dari mancak yang telah mendidiknya dengan ilmu agama yang cukup serta kedisiplinan yang tinggi, sedangkan ibunya medidiknya untuk selalu mandiri.Abahnya meninggal dunia ketika dia masih duduk di bangku MTS,sehingga mau tidak mau dia dia harus membantu meringankan beban ibunya dalam membiayai sekolahnya hingga sarjana.
Kematangan emosi serta kecakapannya dalam berorganisasi membuatnya begitu dikenal di kalangan masyarakat kota Cilegon,baik dari kalangan mahasiswa,birokrat,politikus hingga kalangan pengusaha,dari kalangan bawah hingga kalangan elit.Dia tidak pernah minder dengan apa yang dia miliki,karena dia berprinsip bahwa manusia terlahir dalam kondisi yang sama,sama-sama tidak membawa apa-apa sekalipun hanya sehelai benangpun,sehingga dengan berbekal potensi dan peluang yang sama manusia saling berlomba menjadi yang terbaik yaitu dengan berusaha menjadi manusia yang banyak memberi manfaat bagi orang lain,seperti apa yang pernah dia tuturkan kepada adik kandungnya Abdul Ghofur “Kita memeng terlahir ditengah tengah keluarga yang kurang mampu, tetapi potensi kita sama, peluang kitapun sama.Jangan sampai kita mati tanpa meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.Seperti pepatah mengatakan Gajah mati mninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, lalu apa yang akan kita tinggalkan ketika mati nanti??”,dan kata-katanya itu dia buktikan setelah beberapa tahun dia menikah dengan Neneng Marliana, pada tahun 2002 dia mendirikan Yayasan Al-Insan yang menjadi cikal bakal berdirinya MTS dan SMK yang dia beri nama SMK BIT Al-Insan di tanah peninggalan abahnya.Tidak selesai sampai disitu saja,diapun berencana mendirikan sekolah tinggi di kamoungnya,namun takdir berkata lain,belum lagi dia wujudkan cita-citanya itu dia kembali menghadap penciptanya Allah Azza wa Jalla
Dia pergi meninggalkan segudang inspirasi,dia tinggalkan pula bukti kecintaannya terhadap tanah kelahirannya,yang dapat kita kenang melalui kedua nama anaknya,Maulana Agam Abda’u ( 7 th ) dan Siti Salwa Agam Fadilla ( 3 th ). Agam dalam nama tengah anaknya berarti Anak Gaos Asli Mancak,sungguh sebuah dedikasi yang luar biasa terhadap tanah kelahirannya.
Tulisan singkat tentang perjalanan almarhum Gaos Adhom ini mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi kita dalam menjalani kehidupan yang fana ini.Tanpa bermaksud mengesampingkan tokoh-tokoh visioner lainnya di kota Cilegon yang sejatinya sangat banyak,hal ini semata-mata karena dorongan rasa hormat dan salut penulis terhadap pribadi yang masih begitu muda,mengingat usianya yang masih 42 tahun ( 1973-2009 ),namun telah menghadirkan banyak sekali manfaat ditengah-tengah masyarakat. Akhirnya kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.
Minggu, 13 September 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
